Yin Mingshan, Penjual Jarum yang Menjelma Jadi Pengusaha Otomotif Dunia (1)

Yin Mingshan, Penjual Jarum yang Menjelma Jadi Pengusaha Otomotif Dunia (1)

Ewo Raswa
posted by kontan on 12/17/07

Kaki yang mungil dengan tanda kebangsawanan China tak mampu menolong Yin Mingshan dari kesengsaraan. Kaum komunis telah merampas masa indah Yin. Tapi, kesengsaraan itu mampu menyulap pria ini menjadi pengusaha yang tangguh. Pada 2001, menurut Forbes, ia adalah orang terkaya ke-96 di China dengan kekayaan US$ 63 juta. Tahun ini, menurut majalah China Hurun, kekayaannya telah mencapai US$ 270 juta. Versi Hurun, Yin adalah orang terkaya ke-7 di Chongqing dan sekaligus ke-397 di seluruh China.

YIN Mingshan, lahir pada Januari 1983 atau 96 tahun silam di Chongqing, sebuah kota di China. Dia hanya menyelesaikan pendidikan setingkat sekolah menengah atas. Yin menjalani masa kanak-kanaknya dalam keadaan yang menderita.

Kaum komunis yang menancapkan kekuasaannya di Kota Chongqing membuat Yin dan keluarganya terusir dari kampung halamannya. Mereka mengejar Yin beserta ibunya yang kala itu hanya mampu mengambil sepasang sumpit, sebuah mangkuk, dan 2,25 kilogram beras sebelum meninggalkan rumah.

Dalam kesengsaraannya, Yin bertahan hidup dengan menjual jarum dan benang di pasar. Awalnya, dia memang tak begitu merasakan manfaat kerja kerasnya itu. Ternyata, dari sanalah, Yin memperoleh pelajaran berharga menjadi seorang pengusaha berkarakter tangguh.

Pada pertengahan era 1950-an, Yin pernah dihukum di kamp penampungan pekerja China lantaran kecenderungannya yang kapitalis. Hukuman itu berlangsung hingga lebih dari dua dasawarsa dalam hidupnya. Tapi, siapa sangka, kamp ini juga memberi pelajaran berharga bagi Yin dalam memahami sistem penampungan para pekerja di China. Pelajaran terbesarnya adalah "terus berjuang dalam hidup" dan "tidak pernah menyerah menghadapi masa depan di China".

Yin belum bisa lepas dari posisinya sebagai persona non-grata hingga pendiri Partai Komunis, Mao Zedong, tutup usia pada 1976 silam.

Akibatnya, ia terlambat membangun kerajaan bisnisnya. Yin pun menghabiskan seperempat abad hidupnya untuk mengejar ketertinggalannya dengan kerja keras dan melakukan sebanyak mungkin hal yang bisa ia kerjakan.

Selepas dari kamp kerja paksa itu, Yin merintis karier di bisnis publikasi. Namun, pada 1992, dia beralih ke bisnis perawatan sepeda motor. Ketika itu, Yin bersama sembilan rekannya mendirikan Lifan Hongda Vehicle Assembly Research Institute dengan modal hanya 200.000 yuan.

Berkat kerja kerasnya, dalam dua belas tahun kemudian, Lifan telah menjadi raksasa otomotif di China dengan nama Chongqing Lifan Industry (Group) Co Ltd. Pada 2004, Lifan telah mengekspor produknya ke lebih dari 100 negara di dunia, yang tersebar di Asia Tenggara, Asia Barat, Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan.

Asal tahu saja, motor buatan Lifan Group juga banyak dikendarai oleh polisi di Indonesia. Sementara, di Vietnam, produk motor roda duanya menjuarai pangsa motor di bawah 250 cc. Para remaja di sana bangga menunggangi mochin (motor China) ini. Bahkan, Lifan mencetak sejarah baru dengan mengekspor motor pertamanya ke Jepang pada 2001.

Lifan Group telah menciptakan lapangan kerja bagi 40.000 orang lebih. Hingga 2006, Lifan mempekerjakan 12.000 karyawan. Bisnisnya mencakup 10 perusahaan manufaktur dan mesin, 3 perusahaan pemasaran, serta satu pusat teknik. Lifan juga berinvestasi di sektor keuangan.

Pada 2004, angka penjualan Lifan mencapai 5,9 miliar yuan dengan nilai ekspor mencapai 242 juta yuan. Kinerja Lifan Group terus meningkat dari tahun ke tahun. Tak pelak, Lifan Group menjadi salah satu dari 500 perusahaan teratas di China. Bahkan, Lifan menjadi yang terdepan dalam daftar 50 perusahaan paling top di Provinsi Chongqing.

Tak bisa diingkari, langkah Lifan membeli tim sepakbola di liga utama China pada 2000 silam merupakan kunci pembuka kesuksesan perusahaan ini. "Kami membuat motor selama delapan tahun dan tidak ada yang mendengar kami. Tapi setelah membeli tim sepakbola, setiap orang mengenal kami dengan cepat," kenang Yin dalam satu wawancara.

Setelah sukses di sepeda motor, Yin punya impian yang lebih besar, yakni membangun industri mobil. Alasannya, dia bersiap untuk meniru sukses pembuat sepeda motor Jepang, seperti Suzuki dan Honda, yang beralih ke manufaktur mobil. Impian Yin telah mulai terwujud. Sebab, kini, Lifan sudah merilis beberapa merek mobil. (Bersambung)

Sumber: Kontan-online.com

Comments

Popular posts from this blog

Sisi Lain Fakta Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Walk Away

Memilih Gubernur BI